Jumat, 19 Februari 2010
Jilbab Lucu Dengan Telinga Kelinci
BUSANA MUSLIM yang benar tidak akan pernah lepas dari penggunaan jilbab, oleh karena itu saya sangat berterima kasih kepada orang yang sudah menciptakan kreasi unik seperti ini. Jilab yang saya beli untuk anak perempuan saya memiliki warna dasar putih, dan ada sedikit penggunaan warna pink. Tentu saja ini akan sangat menyenangkan untuk putri saya. Dengan BAJU MUSLIM yang di padukan dengan jilbab lucu ini, tentu saja anak saya akan semakin suka jika di suruh untuk mengenakan jilbab. Apakah ada ibu2 juga yang suka mengenakan jilbab lucu untuk di pakai oleh putri tersayang?
Senin, 15 Februari 2010
Karbon Aktif dari Kulit Singkong
Deby dan Shona, yang mewakili Indonesia, meraih juara pertama dalam ajang Mostratec di Novo Hamburgo, Brasil, yang berlangsung pada 24-31 Oktober. Ajang itu diikuti siswa sekolah menengah atas dari 22 negara di Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Ada 274 proyek siswa yang dipertandingkan.
”Biasanya karbon aktif dibuat dari batok kelapa. Ternyata, kulit singkong yang selama ini kurang dimanfaatkan juga mengandung karbon,” kata Shona.
Ia secara tidak sengaja mengetahui dari tugas sekolah temannya bahwa kulit singkong mengandung 59,31 persen karbon. Ia sering melihat karbon aktif digunakan untuk menjernihkan air di kamar mandi asrama sekolah.
”Saya pikir, kulit singkong juga bisa dibuat karbon aktif. Selain dapat meningkatkan nilai ekonomis kulit singkong, pembuatan karbon aktif dari kulit singkong lebih ramah lingkungan,” kata Shona.
Deby mengatakan, karbon aktif dari kulit singkong dibuat dengan mengeringkan kulit singkong, dilanjutkan pada alat semacam oven pada suhu 800 derajat celsius selama tiga jam. Hasilnya dihaluskan dan diaktivasi dengan larutan NaOH.
Setelah diuji dengan atomic absorption spectrophotometer, karbon aktif yang dihasilkan ternyata dapat menyerap 99,98 persen kandungan tembaga (Cu). Hasil uji laboratorium, sebanyak 20 mililiter limbah sintetis yang mengandung CuSO4 mampu dijernihkan dengan 2 gram karbon aktif kulit singkong dalam waktu 40 menit.
”Tidak hanya untuk penjernih air, karbon aktif juga digunakan untuk obat diare. Kami ingin ada yang melanjutkan penelitian ini supaya dapat diaplikasikan dalam kehidupan,” kata Shona.
Selasa, 09 Februari 2010
DNA Juga Bisa Memacu Potensi Diri, lho...

Deoxyribunucleic Acid (DNA) selama ini selalu dikenal untuk mengidentifikasi garis keturunan. Padahal, DNA tak hanya bisa dipelajari dari sisi medis. Psikolog Miriati, Psi, mengungkapkan, DNA juga bisa disorot dari ilmu Psikologi. Apa manfaatnya? Ternyata, DNA bisa dioptimalkan untuk membangkitkan potensi diri. Mau tahu, bagaimana mengaktifkan DNA?
DNA terdiri dari zat kimia yang sifatnya basah yaitu adenine, guanine, cytosine dan thymine yang melekat pada fosfor dan gula. Bentuknya seperti tangga elips, memutar. Menurut Miriati, setiap manusia memiliki DNA/gen yang mempunyai potensi serupa. Memberikan pengaruh positif atau negatif, tergantung bagaimana pengaktifan oleh masing-masing individu.
"DNA itu terdapat di setiap inti sel tubuh. Semua manusia memilikinya. Perbedaannya, hanya karena masing-masing punya pilihan dan keinginan yang berbeda. Selain itu disebabkan masih adanya gen yang padat dan belum mencair. Sehingga, perlu di- on -kan," ujar Miriati, pada diskusi Mengoptimalkan Potensi Diri melalui Pengaktifan DNA/Gen, di MP Book Point, Jakarta Selatan, Kamis (10/9).
"Dengan kehadiran gen/DNA, setiap orang punya bakat dan potensi yang sama. Catatannya, harus membuka diri dengan berbagai kesempatan," lanjutnya.
Miriati mencontohkan, sikap penolakan selalu menjadi respon awal bila disodorkan sebuah kesempatan. Padahal, tawaran ini seharusnya direspon secara positif dan yakin bahwa setiap orang bisa melakukannya, meskipun tanpa pengalaman. Ketika kesempatan direspon positif, jelas Miriati, maka gen akan hidup.
"Setiap orang punya potensi, berapapun usianya. Untuk memaksimalkan potensi, setiap orang harus berpikir positif, bahwa dia bisa. Setiap orang punya muatan gen yang sama, tergantung bisa dibuka atau tidak. Kalau negative thinking , gen tidak akan terbuka," papar Miriati.
Bagaimana mengaktifkan DNA untuk potensi diri?
Ada beberapa cara untuk mengaktifkan DNA. Miriati memaparkan, setidaknya ada 6 karakter positif yang bisa ditumbuhkan pada setiap individu. Pertama, membuka diri untuk menyerap wawasan yang luas. Wawasan yang luas akan merangsang keinginan. Kedua, dengan keinginan atau dreams, bisa membangkitkan energi positif dalam diri.
Tak hanya dari diri sendiri, menghidupkan DNA juga bisa distimulus dari lingkungan sekitar. Cara ketiga, menginspirasi momen yang dijumpai.
"Seseorang bisa mengandalkan dirinya sendiri dengan apa yang ada didirinya. Dimanapun, kita bisa terinspirasi asal dalam hidup menghadirkan consciousness sehingga kita bisa memaknai suatu peristiwa," ujarnya.
Keempat, selalu berpikir positif, grab it first and do it ! Artinya, selalu berpikir positif atas setiap kesempatan baru. Dan kelima, selalu melakukan latihan terus menerus sehingga pengaktifan DNA akan bisa dimunculkan secara spontan dan berimplikasi positif bagi potensi diri.
Miriati juga mengingatkan, jika memiliki mimpi atau keinginan, berbagilah dengan orang-orang yang diyakini bisa memberikan dorongan. Dorongan positif yang yang didapatkan akan memacu DNA aktif. "Jangan cerita sama orang yang belum-belum sudah memadamkan semangat Anda," kata Miriati.
Rabu, 03 Februari 2010
Mobil Wakaba Karya Anak Bangsa Segera Diluncurkan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Agus Gustiar di Bandung, Selasa (13/10), mengatakan, minitruck berfungsi mengangkut hasil perkebunan. Wakaba adalah singkatan dari Wahana Karya Anak Bangsa.
Karya Working Group Klaster Industri Komponen Otomotif Jabar dan Design Center Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung itu didukung Disperindag Jabar, Departemen Perindustrian, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Desain Wakaba selain minitruck yakni patrol, minicold storage, minidozer, mini-excavator, dan miniloader, tetapi belum dibuat prototipenya. Wakaba diharapkan menjadi semangat tumbuhnya industri otomotif nasional masa depan yang berbasiskan industri kecil menengah
Senin, 01 Februari 2010
Ini Dia Laba-laba Vegetarian Pertama di Dunia

Hampir semua spesies laba-laba merupakan jenis predator yang memangsa hewan lainnya, dari serangga sampai burung. Di antara lebih dari 40.000 spesies laba-laba yang ada di dunia, laba-laba yang baru ditemukan ini mungkin jenis pertama diketahui makan tumbuh-tumbuhan.
Hewan berkaki delapan yang diberi nama Bagheera kiplingi itu, hidup di Amerika Tengah khususnya Meksiko dan Costa Rika. Laba-laba vegetarian yang besar tubuhnya hanya seukuran kuku orang dewasa itu memangsa ujung daun akasia.
"Ini benar-benar laba-laba pertama yang diketahui memangsa tumbuh-tumbuhan. Ia juga laba-laba pertama yang diketahu menjadikan tumbuh-tumbuhan sebagai mangsa pokoknya," ujar Christopher Meehan dari Universitas Villanova, Pennsylvania, AS yang melaporkan penelitian tersebut bersama peneliti lainnya dalam jurnal Current Biology edisi teranyar. Ia mengatakan hampir semua buku teks laba-laba tak ada yang pernah menyatakan ada laba-laba pemakan tumbuh-tumbuhan.
Dalam memperoleh sumber makanan ia cukup dibantu peran semut penjaga yang hidupnya juga di pohon akasia. Pasalnya dengan semut yang menguasai akasia, tidak ada herbivora lainnya yang berani mendekat. Namun, karena semut juga makan ujung daun, selain nektar, laba-laba harus melakukan strategi khusus.
Saat berburu mangsa, laba-laba tersebut harus menghindari smeut penjaga dengan memanfaatkan jaringnya untuk bergerak naik turun. Laba-laba juga membangun sarangnya di pangkal daun akasia tua yang jarang sekali dilalui semut.
Selain memangsa ujung daun, laba-laba tersebut sebenarnya masih memangsa lainnya seperti larva semut dan nektar. Saat memengsa semut mereka akan berpura-pura menjadi semut dengan melakukan gerakan zig-zag.
Meski demikian, pengamatan yang dilakukan menggunakan rekaman video dan analisis kimia menunjukkan laba-laba tersebut tetap mendapatkan sebagian besar makanan dari tumbuhan. Populasi di Meksiko memperoleh 90 persen makanan dari jaringan tumbuhan dan sisanya larva semut, nektar, dan lainnya. Sementara populasi di Kosta Rika memperoleh 60 persen makanan dari daun akasia.
